Thursday, October 9, 2008

orang-orang itu dinamakan teman

Orang-orang itu dinamakan teman.

Bukan hanya teman sepermainan saja. Pernah gak sih kamu ngerasa kalau kita sering mengkotak-kotakan arti sebuah teman. How u perceived your friends in your life?

Saya merasa memiliki dunia yang lain saat ini. Asyik dengan kegiatan sendiri. Bahkan salah satu diantara teman ada yang protes, ”Udah lupa ya jalan pulang? Apa perlu dikasih peta dulu?” atau ada yang seperti ini, ”Jangan sampe aku marah beneran ya, Vin. Ini gak ikut Itu gak ikut!”.. Maaf, maaf banget ya aqsa sapi, ibon, I miss u too, gals... Tapi kalian pasti mengerti keadaan ini ketika dihadapkan oleh kegiatan yang menyibukkan, apapun kegiatan itu, serasa memiliki dunia baru. Walau sebenernya kerjaan kantor belum banyak” banget. Cuma perubahan itu terkadang mengasyikkan. Berada di lingkungan baru, tempat tinggal baru. Dimana temen” deket saya ternyata berada jauh di sana. Ketika saya bersama mereka yang asing. Ada rasa penasaran yang pengen diselamin lebih dalam. Dan itu membuat ketagihan. Bukan berarti juga saya jadi sombong, bukan. Tapi ketika saya betah di suatu kondisi, maka pindah pula suatu habitat. Dan itu bukan hanya sekadar short moment aja. Hey, saya gak lupa sama mereka yang protes, sumpah.. tapi terkadang untuk mengistirahatkan diri pun juga gak sempet..

Back to the topic, teman yang sudah ditempatkan dalam topik-topik tertentu. Teman untuk mengeluh, teman untuk jalan bareng, temen kampus, temen sma, teman untuk curhat urusan kerja, teman menjalani rutinitas. Tapi diantaranya ada teman yang bisa membuat kamu mengingat namanya ketika merasa sepi. Atau bisa membuat kamu lupa akan kesedihan. Dan itu yang saya dapati hari ini.

Jadi selama ini saya mungkin hilang dari peradaban, hehe. Terbiasa menjalani dengan dia lagi dia lagi. Dan ketika merasa kecewa, busssssssshhh tiba-tiba ada kereta melintas dari arah berlawanan siap menggilas.. teeeeeeeeeetttttttttt, klakson si masinis telat memberitahu. Kosong banget, tiba-tiba bleng. Aneh aja gitu, kemana? Mau kemana? Mau cari teman dimana? Hey men, temen tuh banyak, cuma tercecer entah dimana. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba ada message masuk, dari Julia Omayra Nasution. Nah, orang ini akan saya ceritakan dalam bab tersendiri, hehe..

Ketakutan akan merasa sendiri tuh sebenernya gak perlu, karena sebenernya kita punya seseorang yang ada di belakang. Mereka akan selalu ada, kemana pun kita menoleh. Cuma masalahnya adalah kita suka malas mencoba untuk mendekati teman-teman yang sudah terlupakan itu. Yaudah, sekalian aja, saya pengen terimakasiiih banget sama kalian. Yang mau menganggap gua teman. Yang masih menyimpan nomor handphone saya di phonebooknya masing-masing, mengucapkan ucapan untuk moment” tertentu, yang mengirimkan email-email lucu, yang membawakan oleh-oleh ketika pada mudik (oya, makasi banyak ya, hari ini dapet oleh” banyak, mulai dari gelang, mangga segede bagong, cokelat dan cimeng dari singapur haha yang satu ini emang bego banget dalam kasih oleh”, bolu gulung, bagelen dan dodol), yang kirim message gak penting haha..

Ah, gua merasa kaya banget.. walaupun jumlahnya gak banyak, lo lagi lo lagi, yang bikin seneng ya elo, yang bikin males ya elo juga.. Kalo lagi curhat emang udah tugas lo banget jadi kompor meleduk, kita timpukin bareng yang tuh enemy, hehe beraninya di belakang.. Teman selalu membela dan memperbaiki. Jadi kangen masa muda dulu, hehe.. dari mulai sd. Maaf teman TK, saya tidak berhasil melacak ingatan saya tentang kalian, maklum kapasitas terbatas.

saat liburan yang dinanti datang

Akhirnya liburan datang.. Setelah selama ini dinanti. Aduh kuping gua sebelah kiri sakit banget kenapa ya? Oya, berhubung kemaren lebaran, jadi kami, Vintya & Crew mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan baik disengaja maupun disengaja (haha, jadi semua memang sudah terencana. Ingat, hidup itu keras men! Tindakan kriminal ada karena ada kesempatan). Kaget juga, ternyata masih banyak temen-temen yang tadinya gak pernah kontak tiba-tiba sms, eh yang deket malah ngilang entah kemana.. Aww, kuping gua sakit banget.. Masa congean sih?? Jorok parah kalau benar adanya..

Berbicara tentang lebaran akan berhubungan dengan istilah mudik. Mungkin bagi yang pernah membaca blog yang di-post jaman baheula, disitu gua sempet menceritakan bagaimana gambaran mengenai tempat mudik di dusun pedalaman yang paling dalam, tempat bapak berasal. Lain dari tahun-tahun sebelumnya, gua gak ikut mudik!!! Yey.. pengennya sih menjalani liburan ke tempat eksotik, dimana gak ada orang yang kenal, bebas berpakaian sesantai dan senyaman mungkin, pakai kacamata gelap yang terkadang gak ada esensinya. Tapi apa daya gak bisa kesampaian, liburan di Ibukota yang terasa jauh lebih ramah.
Liburan satu minggu ini seperti masa penghabisan untuk kebahagiaan yang yang pernah ada. Setelah ini, akan dibuka lembaran baru. Seperti apa nantinya gua juga belum tahu, gak bisa menerka juga. Karena semuanya pasti akan berbeda dan sama sekali belum terbiasa. Aaaarrrggggggghhhh, terkadang hal ini membuat gua menjadi kufur akan nikmat luar biasa yang seringkali menimpa gua. Lupa gitu sama keenakan-keenakan yang sempet gua rasain. Tapi justru itu yang menjadikan gua terlihat sangat manusiawi. Seorang manusia sangat biasa yang melankolis.

Oya, gua uda lulus masa management trainee, horeeee.. sekarang lagi nunggu masa penempatan aja, konon jumat ini diumumin.. yah akhirnya beberapa hari ini menjalani hari-hari tak berarti bersama 5 orang teman MT senasib sepenanggungan yang bodoh-bodoh, tak kalah bodohnya dengan gua. Satu otak yang sama.. kriminal. Tega-teganya menghujat gua sebagai ratu uler.. padahal mereka yang siluman kecoa. 5 pria yang mencoba membodohi gua sebagai satu-satunya wanita yang rela dibawa kemana-mana, termasuk kabur dari jam kerja. Menemukan benda aneh di suatu rumah susun, haha hanya kita yang tahu seperti apa benda itu. Sempat bikin gua trauma, geli gak karuan.. parah banget tuh orang yang pernah nempatin kamar.. anjrit.. dan kebodohan pun bertambah tadi pagi, saat gua sedang menemani mereka sarapan.. ceritanya, salah seorang dari kita yang liburan ke singapur kemaren membawa oleh” Cigar untuk salah satu temannya.. Gambar kotaknya sih coklat, pas dibakar juga bau coklat.. tapi lama kelamaan kenapa temen gua yang menghisap cigar itu jadi keringetan, terus mukanya jadi agak biru, ngomongnya ngelantur, kayaknya mabok nih orang.. Men, parah lo, cigar yang lo bawa itu ada kandungan ganjanya bego!! Wakakakakakakak....

Kalian memang bodoh, tapi kalo gak ada kalian, kehidupan gua biasa aja men..

Wednesday, September 17, 2008

contoh karangan bebas

Aku merasa kecil, bukan karena badanku yang mungil atau tubuh yang pendek. Bukan ukuran yang dinilai dari potret fisik seorang manusia. Layaknya mahluk hidup, aku tumbuh dan berkembang, bukan seperti kupu-kupu yang mengalami metamorfosa. Aku hanya seorang biasa yang membutuhkan udara untuk bernafas dan membutuhkan teman untuk menyambung nafas. Membuyarkan dahaga di tengah kesepian. Iya, aku merasa sepi. Tiba-tiba duniaku berhenti berotasi, maka tak ada kata siang ataupun malam sebagai pertanda bergantinya hari. Padahal beberapa teman masih bergurau di sana, atau ada pula yang asyik dengan dunia yang diciptakannya sendiri. Benar, manusia seperti Tuhan untuk kehidupan diri. Menentukan segalanya untuknya.

Mungkin tulisan ini terbaca agak kacau, tapi aku hanya berusaha menulis apa yang kupikirkan. Bersandiwara dalam lakon skenario yang ingin kumaikan. Bukan pentas terbuka. Tempatku hanyalah sebuah belakang panggung. Dimana aku bisa mendengar sang artis mengeluh kecapaian. Atau sang perias masih getol berbisik gosip. Aku pun tertimbun dalam tumpukan baju ganti.

Beberapa diantaranya mengenaliku. Mengajakku mengobrol atau malah ada yang lancang merayu. Ada yang menghujat bahkan tak jarang pula yang memuja. Aku merasa iri dan karenalah aku merasa kecil. Disaat manusia lain menilaiku istimewa, disini aku merasa nestapa. Sesungguhnya apa yang sedang kujalani. Dan apa pula yang kucari. Aku bisa meraih apa yang kuinginkan, ironinya aku malah harus merelakan apa yang paling ingin kumiliki. Kasihan bukan?

Aku mengasihani diriku sendiri. Aku hanyalah pengemis yang memberi santunan dalam kotak uang yang kujajakan di pinggir jalan. Padahal tidak ada sang kaya yang melintas. Bahkan sang miskin pun malas menemani. Sungguhpun aku lebih melarat dari yang tidak mampu. Dan tentunya lebih fakir sebagai sentral bagi yang tak punya apapun. Beginilah aku saat ini. Aku hanya ingin meminta dan..

BERHENTI MEMINTA!!

Apa sih? Bingung kan lo? Sama gua juga bingung barusan gua ngarang apa. Sekilas teringat tatkala aku duduk di bangku sekolah dasar. Paling rendah, guru memberi nilai 8.5 untuk karanganku. aku tahu, dalam hatinya pasti dia tidak tega. Tidak tega untuk menaruhkan point dalam lembar guratan cerita seorang anak. Kasihan sang guru. Menjadi manusia kejam. Merasa menjadi seorang penjahat ketika harus memberikan penilaian kepada sang murid yangsedang memberikan kesaksian. Kesaksian dari kebohongannya yang terjabar dalam rangkaian tulisan. Setahuku, mengarang adalah tidak membutuhkan hapalan. Atau logika. Tapi mengapa harus diberikan penilaian. Mengapa harus ada tuntutan untuk ini atau untuk itu? Namanya juga mengarang bebas. Apapun bisa seenaknya ditulis. Tapi mengapa harus pula dianugerahi nilai oleh orang lain, haduh..

Seperti inilah karangan bebas itu, tidak ada alur. Aku pun tidak rela jika ada seorang yang membaca lantas kemudian seenaknya menilai baik buruknya celotehku. Kalau tidak bagus yah terang aja, saya bukan penulis. Kalaupun bagus, memangnya kau mau memberiku upah untuk penilaianmu itu?

Hidupku indah, indah sekali. Namun tidak sarat akan pengalaman, minim sekali jatah untuk penderitaan. Layaknya kalian. Kalian pasti bahagia. Kalian pasti menyukai hidup masing-masing? Iya bukan? Mengaku sajalah.. pernah ada yang bilang bahwa kalian adalah apa yang kalian pikir.. jika kalian berpikir tentang kebahagiaan, maka jadilah suatu kebahagiaan.. dan sudah selayaknya manusia hanya berpikir dan berharap tentang kebahagiaan, maka jadilah kalian yang bahagia. Maka tak perlu menyesali suatu apapun.. asiiiiiiiiiikkkkk.. love u love u love u..

memoar fajar

Selamat Pagi!!
Teringat oleh ucapan salah satu dosen waktu jaman kuliah dulu (haha, asaan baru lulus 4 bulan yang lalu), beliau bilang, “Kapanpun itu, ucapkan salam dengan kalimat ‘selamat pagi’ supaya kita tetap merasa berada dalam suasana pagi sepanjang hari. Tak peduli ketika itu siang sore atau malam.” Dan sesungguhnya, tidak pernah saya amali petuah bijak itu, hehe.. Bukan apa-apa, cuma gak enak aja mengambil gaya atau ciri khas orang lain.. Lagi pula si empu-nya petuah hanyalah suhu, mahaGuru.. bukannya Raja yang bisa membuat saya merasa sebagai abdinya..

PAGI, semangat.. memang pantas jika saya membenci kata tersebut. Haduh, yang ada malah nguap-nguap gak karuan, tidur di gerbang pintu tol, bengong sambil merem alias ketiduran lagi. Amnesia adalah kata yang tepat untuk menjawab kapan terakhir kali saya semangat melakukan aktivitas di pagi hari..

Aha!! Saya pernah mengenal kata itu, sewaktu TK mungkin.. Mungkin? Haduh vintya, menggunakan kata ’mungkin’ menandakan bahwa kamu tidak ingat kejadian itu.. Yah maklum, short term memory lost, wajarlah kalau kita tidak mampu mengenang peristiwa belasan tahun lalu. Huuumm, pun saat hari pertama masuk sekolah dengan menyandang gelar sebagai anak SD terlupa sudah. Ohooo, barang kali sewaktu hari pertama masuk SMP? SMU? KULIAH? Boroooooo!!.. yang ada malah males, udah zaman ospek”an sih, hehe tapi bukan berarti saya malah bolos ya.. Humm, salah besar, tiap hari selalu datang, mengerjakan tugas-tugas, dimarah-marahin, yah pokonya menjadi orang yang rendah hati saat ada orang yang merendahkan diri.. SIAL, hahahaha..


Oh iya, sekarang saya ingat.. Saya merasa sangat semangat datang pagi ke suatu tempat, pagi itu terhitung mulai tanggal 26 Juni – 7 Agustus 2007.. Summer Camp. Ya enggaklah, saat itu saya memang masih membenci kata ’semangat’, tapi saya bisa merasakannya.. Pagi ini kembali ke pagi setahun kemarin. Teringat tentang sebuah kisah melodramatis yang bisa membuat tersenyum kapanpun saya mengenangnya. Berbagi sedikit cerita, tanggal 25 Juni adalah kali pertama saya melihat malaikat itu, dan mengamatinya dengan penuh kekaguman di siang hari. Dia berada tepat dihadapanku, menyuapkan nasi sedikit demi sedikit sambil terlamun. Aku memandangnya, ingin sekali bertanya, ”Apakah kamu sakit?”.. tapi niat itu kuurungkan, takutnya dia malah bingung. Karena, apabila dia balik bertanya, ”Sakit apa ya”.. nanti aku khawatir dia akan berkata, ”Sakit sewaktu terjatuh dari surga..” Yayayaya, semenjak hari itu saya menjadi senang datang pagi..

Tapi kini roda waktu sudah berputar, menggilas kerikil-kerikil kecil yang menghadang lari kereta yang sedang berkelana. Dimana para penumpangnya mulai terguncang dan mulai meminta kepada sang kusir untuk menghentikan laju si kuda. Berhenti, keluar. Kemudian mengambil jalannya masing-masing, memasuki hutan yang tak dikenalinya. Kemudian disibukkan dengan dunia baru yang membuatnya lebih terkagum. Baik-baiklah..

Wake Up! Iya, iya! Saya sudah bangun dari lamunan ini, lamunan teraneh dikala jari masih bisa mengetik kata demi kata tanpa henti.. Mencatat seluruh gambar yang ada alam pikirkan.. mereka ingin dikeluarkan, mereka ingin diungkapkan lewat lukisan kata-kata.. Sebuah memoar di pagi hari..

Sinar pagi membuat mataku memicing, tapi aku merasa sebuah kesenangan.. sapaan dari matahari yang mengerling manja, dan ku balas dengan pejaman singkat mata kiriku dari balik kaca..

Tuesday, September 2, 2008

aku bilang

Mereka bilang, ini adalah bulan spesial
Dan terutama bagiku..
Berusaha kulewati dengan ketabahan
Dan kuserahkan dengan keikhlasan
Untuk sesuatu yang yang tak bisa kurelakan
Dalam keadaan yang menuntut praktik sebuah kesabaran


Mudah-mudahan ini merupakan awal dari segalanya
Yang membuatku tersadar bahwa diluar sana banyak hal yang tidak dapat dipaksakan
Menerima bahwa aku bukanlah yang dulu
Karena tiba-tiba, apa yang aku punya bukan milikku


Di langit, bulan kadang nampak kadang tidak
Menerangkan arti kegelisahan yang menerpa banyak mahluk di bawahnya
Mereka lamunkan sebuah kekosongan, yang bermetamorfosis menjadi kepedihan
Kenyataan yang tidak ingin dihadapi dan mimpi indah yang terus menghantui


Beberapa hari yang lalu, setiap pagi selalu kuawali dengan terduduk di sebuah kursi di pinggiran lapangan tenis berwarna biru
Ada ring basket disudutnya, dihiasi rangkaian pepohonan paku
Titik air menyelemuti setiap inci karena hujan mengguyur tempat yang sering disinggahi
Setiap orang teriak, setiap orang tertawa saat raket tenis menggebuk lemparan bola
Tapi pagi itu berbeda, aku melihat seseorang yang sedang asyik bermain dengan sebuah tembok
Begitupun dihari selanjutnya, ia sendiri, tak berkawan, dan penuh peluh
Lalu kutanya, dan ia menjawab dengan bahasa yang tak mudah kupahami
Ia berbeda dengan kita, Tuhan lebih menyayanginya
Tuhan tidak membiarkan mulut ciptaanNya tersebut berkata hal yang tidak pantas
Apa yang ia alami bukanlah kekurangan, tapi kelebihan
Tidak seperti yang sering mahluk lainnya katakan
Setelah hari itu, aku tidak pernah melihat ia lagi, tanpa sempat kuketahui siapa ia..


Dan sebelum kuakhiri malam, genangan air yang kulihat masih menari pelan
Ia masih disorot lampu pinggir kolam, tak ada riak
Tidak ada yang beratraksi didalamnya, dan tak terdengar pula canda tawa anak-anak
Atau mata seorang Ibu yang awas mengamati buah hatinya
Malam itu, di pinggir kolam itu, aku hanya bisa melihat langit yang begitu kelam


Di tempat mereka berpijak, aku lebih banyak terdiam
Dan di daratan ini pula, aku lebih banyak bertanya
Tentang sebuah tanda tanya besar
Dan keinginan untuk menjadi sepertinya
Bahwa aku ingin menyamainya, perasaan yang ia punya
Memahami dan selalu mengerti
Bahwa kini aku harus membiarkan semuanya berubah
Aku tidak akan selalu begini.

Friday, August 15, 2008

SIAPA YANG SALAH??

Siapa yang salah dalam dialog ini.

Gua : Mbak, mau tanya kalau saya mau service besar untuk 80000km bisa booking dulu gak?
Mbak : Bisa.
Gua : Dapet potongan 10% kan yah? Servicenya apa aja ya?
Mbak : Iya. Biasanya sih ganti oli, tune up, dlllllll…
Gua : Yaudah deh mbak, saya mau booking ya buat besok pagi..
Mbak : Baik, saya catet dulu ya identitasnya..
Gua : Iya. Atas nama Vintya
Mbak : Nomor polisinya, Mbak?
Gua : B 8998 FZ
Mbak : Panther Zebra?
Gua : Bukan, Vios Matic
Mbak : Iya, Panther Zebra kan?
Gua : Bukan, Vios Matic, mbak..
Mbak : Iya, tapi tadi mbak nyebutnya Panther Zebra kan?
Gua : (Berusaha me-loading dengan cepat, berusaha pinter)


Masya ampuuuuunnnnn, gua menemukan apa yang salah...
Woi mbak, kalau mau sok uraian FZ dalam B 8998 FZ-nya pake nama-nama gitu, mbok ya ”Fanta Zero” atau ”Fenter Zebra” sekalian.. mana gua ngerti..


Jadi, sebenernya siapa yang salah disini?????

Manusia memiliki hati

Perasaan.
Manusia memang sangat luar biasa, memiliki hati untuk merasa. Getaran yang ada saat mendamba dan perih saat terluka. Tuhan tidak memiliki hati, tetapi dapat dikategorikan berhati besar karena memberikan mahluknya beragam keistimewaan. Macan punya taring, sedangkan manusia punya hati. Hati sebagai pelindung, hati yang menentukan, bahwa akan seperti apa hari ini. Sebagai hari yang panjang untuk dilalui, atau sangat singkat untuk dialami..

Bagaimana dengan cinta? Suatu kata basi yang sangat menggelitik atensi. Hatilah yang mengendalikan cinta, seharusnya. Kenyataannya, cinta yang mengendalikan hati, bahkan pikiran, bahkan kenyataan bahwa hatinya sudah diperbudak, tanpa dibeli.

Saya pun bingung dengan apa yang sedang saya tulis. Karena saya bingung dengan apa yang sedang dirasakan, olehnya dan oleh saya sendiri. Terkadang saya suka menerka apa yang sedang dirasakan oleh hati seseorang. Mereka yang tiba-tiba saja terlintas dipikiran. Bagaimana yang mereka rasakan. Apa getaran itu masih ada saat ciuman yang kesekian. Apa menunggu sang pacar yang telat datang masih terasa lama walau hubungan mereka sudah berjalan lama? Apa memegang tangannya di depan umum masih terasa membanggakan. Bersandar pada kekasihnya masih menghadirkan nyaman? Apa mereka berdua masih bisa menertawakan hal-hal yang tidak dimengerti atau tidak dianggap lucu oleh orang lain yang kebingungan melihat mereka tertawa?

M A H A D A Y A C I N T A.

Lelah, dan sebuah ketidakpedulian, muncul dan merusak keadaan. Fakta bahwa merasa diri sudah tidak diperlaku semanis yang lalu. Fakta bahwa diri sudah tidak diperdulikan dibandingkan yang lalu. Fakta bahwa kekhawatiran bahwa sebentar lagi semua akan berubah. Pernah hadir sebuah mimpi. Melihatnya pergi, dan saya hanya bisa menatap punggungnya, punggung yang sangat saya kenali. Punggungnya, tempat saya menaruhkan seluruh asa. Dalam mimpi itu, kurelakan ia pergi. Kemudian, kaki ini berbalik, meninggalkannya, ikut pergi (dari belakang), mencari arah yang dituju, kemana saja, kemanapun, asalkan menghilang. Kemudian aku melihatnya, mencariku. Ia kebingungan dan mulai berlari kecil, berteriak memanggilku dan terus mencari. Tapi aku sudah tiada. Beberapa saat kemudian, aku pun terbangun oleh peluh yang membasahi diri. Merasa bahwa mimpinya belum tuntas. Menerka sebuah jawaban, sebuah akhir dari mimpi. Akankah ia berhasil menemukanku atau keadaanya sudah terlambat. Sebuah akhir dimana “Kita” sudah menjadi “aku atau kamu”. Mungkin, akan dijawab melalui kenyataan. Akan saya tunggu, akan seperti apa kelanjutan.

Tulisan ini tidak akan pernah terbaca. Waktu yang ia miliki sangat sempit, bahkan untuk membiarkan dirinya bernafas. Kasihan. Tapi ia tidak butuh dikasihani. Maka akan kuikuti petunjuk mimpi. Melihat punggungnya, punggung yang sangat kukenal. Tapi aku tidak akan berbalik. Aku hanya ingin melihatnya, melihatnya melangkah. Kemana ia akan pergi.
Kemudian, kaki ini berbalik, meninggalkannya, ikut pergi (dari belakang), mencari arah yang dituju, kemana saja, kemanapun, asalkan menghilang. Kemudian aku melihatnya, mencariku. Ia kebingungan dan mulai berlari kecil, berteriak memanggilku dan terus mencari. Tapi aku sudah tiada. Beberapa saat kemudian, aku pun terbangun oleh peluh yang membasahi diri. Merasa bahwa mimpinya belum tuntas. Menerka sebuah jawaban, sebuah akhir dari mimpi. Akankah ia berhasil menemukanku atau keadaanya sudah terlambat. Sebuah akhir dimana “Kita” sudah menjadi “aku atau kamu”. Mungkin, akan dijawab melalui kenyataan. Akan saya tunggu, akan seperti apa kelanjutan.

Friday, July 18, 2008

kosong

Padang itu begitu luas
Dihuni ribuan pasir yang malu tertiup angin
Pun seorang musafir yang menikmati kesendirian
Sebuah jeda panjang
Fatamorgana membuatnya semakin tersesat
Merindu matahari sebagai petunjuk
Rasi bintang hanya menambah penat

Untuk apa menutupi wajah dengan cadar
Tidak ada yang akan melihatmu, wahai musafir
Engkau adalah sendiri
Ketika kau belari, 5 detik dan jejak mu dihapus
Angin kejam yang tidak berdaya menyemilir
Menemani dalam kesunyian
Bersama suara genderang di tengah gurun

Ketika pasir membentuk gunung
Ketika kaktus menjadi tandus
Ketika musafir menjadi fakir

dan aku berada dalam fana

Karena engkau..

Percayalah bahwa aku sangat ingin menjaga kepercayaanmu
Aku pernah kehilangannya dan takkan pernah kembali utuh sekeras apapun aku berusaha
Bagaimana bisa aku seperti ini
Merasa jatuh dan mencinta
Bersimpuh lutut mengharap dirinya membalas sama
Jatuh dan mencinta


Aku yakin ini lebih indah dari sekadar telaga surga
Walau saat emosi seluruh makian kita semenyakitkan kerak neraka
Tapi aku tetap mencintaimu
Dan karena cacian itu keluar dari mulutmu sehingga aku tetap nyaman

Kau mau tahu seberapa besar aku bersyukur akan dirimu?
Sebanyak kau mampu menghitung setiap nafas yang kuhirup untuk mencium aromamu
atau detak jantungku yang masih bergerak cepat saat kau menciumku
ketika pandanganku tak lepas mengagumimu
atau dikala perkataanmu selalu terdengar merdu
maka ingin ku jadikan sebuah lagu untuk menghormati moment itu

Sayang, aku tak bisa terlihat sempurna di matamu
Maka untuk itulah engkau bersamaku
Tuhan telah melengkapi diriku dengan sempurna
Seperti hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam
Aku akan selalu kurang tanpamu

Maaf jika aku membakar emosimu
Atau ketika aku yang menyulut emosiku karena cemburu
Karena kau milikku aku bisa tega berkata kasar padamu
Karena kau milikku aku bisa tega menuduhkan hal yang sebenarnya tak kupercayai
Karena kau milikku aku leluasa menyakitimu
Karena kau milikku aku tak pernah takut kehilanganmu
Malam ini kau sudah terlelap
Setelah memberiku sebuah pesan
Pesan romantis
Karena tulisan itu darimu
Kau tidak perlu berusaha apapun untuk menjadi romantis
Karena bagiku, dicintaimu adalah Maha Romantis

Ketika matahari esok pagi menyapaku
Kau tidak ada di bantal kita
Tapi aku tahu itu tidak akan lama
Karena aku akan membangun sebuah rumah
Untuk kita tempati
Dan sesungguhnya tidak akan pernah aku membagi cinta ini untuk yang lain
Aku hanya mencintai, telah, akan,dan selamanya
Untuk kemarin, hari ini, dan selamanya
Dalam rumah kita
Rumah yang kita bangun bersama.


22 juni 2008

---

Kata temen gua, ”jaga kesehatan ya men”..
Kata temen gua, ”sesibuk apa sih lo?”
Kata temen gua, ”sms gua kok gak dibales sih?”
Kata temen gua, ”sebenernya aku mau telfon kamu, cuma gak enak takut ganggu”
Kata temen gua, ”kemana kreatifitas lo dalam meng-update blog?”


Hahahaa, kesannya saya terlalu sibuk menjalani kehidupan baru sebagai seorang yang mengais gaji. Sebenernya dalam 2 bulan ke depan, saya mempresentasikan sebuah project. Cukup menyebalkan sih memang, karena harus dipresentasikan di depan jajaran BOD. Di antara 8 orang, mungkin saya yang paling keliatan gak niat, gak ada passion. Ketika orang memutarbalikan otak (emang martabak?) memikirkan project, saya malah sibuk memecahkan teka-teki dari email yang dikirim oleh seorang teman, ketika yang lain sibuk browsing cari informasi, saya malah lebih suka buka okezone.com, ketika yang lain memikirkan pekerjaannya, dan saya akan memikirkan apa yang tidak mereka pikirkan.

Saat ini saya juga lagi dalam tahap mengerjakan revisi skripsi (haha, butuh ijazah), bingung juga kenapa gak kelar-kelar. Tidak punya waktu ke Bandung, atau lebih tepatnya malas hingga tidak sempat menyempatkan. Pikiran pun bercabang, memikirkan sesuatu yang tidak patut disebut pikiran yang membuat kepikiran. Kemana saya setelah melewati dua bulan ke depan. Sungguh tidak layak untuk dipikirkan, kenapa? Untuk apa membayangkan apa yang akan terjadi setelah dua bulan, apabila yang harus kerjakan dalam dua bulan ini terabaikan.

Ketika angin berhembus ke selatan, maka badan berdiri menghadap ke utara. Mata pun menerawang, menelusuri liku untuk mencari jawaban. Jawaban tidak akan datang, karena pertanyaan pun belum ditentukan. Prioritas pun menjadi hal yang membingungkan. Dan aku akan tetap menganggap semua hal menjadi beban.


Mungkin benar bahwa saya belum berada dalam keadaan nyaman. Gua jadi merasa gak adil sama diri sendiri. Membuat kesulitan menjadi bumerang. Setelah tangan melempar dan tubuhlah yang menjadi sasaran. Intinya saya hanya bingung. Bingung dan bingung. Tapi setidaknya hal tersebut menjadikan saya sebagai seorang manusia.. yang selalu berpikir.. dan menyebabkan bahwa manusia itu menjadi sesuatu yang ada..