Wednesday, February 10, 2010

Hello, Stranger!!

#Cuplikan 9 (published FB 280110)

Soekarno-Hatta. Pagi Buta.
Pikiran ini mulai mengacak, mengapa bukan Pattimura - Hayam Wuruk? Apa karena letaknya yang di Jakarta sehingga harus diorientasikan dengan tokoh kenamaan yang besarnya di ibukota? Kenapa bukan Pitung - Jampang? Apa harus pahlawan nasional? Siapapun hey siapapun, tolong jawab pertanyaan saya! Kalian sepertinya masih mengantuk ya? Iya, kita sama-sama mengantuk. Bahkan, saya mulai melindur, di sini terlihat banyak burung dalam bentuk yang sangat besar, tidak berbulu, dan kulitnya pun dari alumunium.

Otak ini masih kekurangan oksigen sehingga hidung pun meminta bantuan mulut supaya membuka lebar dan bisa meraup banyak oksigen sebanyak-banyaknya. Mungkin saking bersemangatnya, saya memutuskan untuk tidak tidur setelah berkemas. Menumpang Damri paling pagi untuk sampai disini tepat pada saat adzan Subuh dikumandangkan. Tidak sempat membeli tiket kepergian menuju Jawa Timur via online. Sengaja. Kepergian ini terlalu mendadak, semendadak Soekarno dan Bung Hatta yang diculik ke Rengasdengklok untuk segera memutuskan bahwa Indonesia sudah bisa merdeka keesokan harinya.

Penerbangan apa saja asal yang paling murah dan paling pagi. Politik ogah rugi, rugi waktu, rugi tenaga, rugi uang. Saya sengaja tidak membawa banyak perlengkapan, hanya satu tas besar yang dibisa dijinjing. Saya masih menerapkan ilmu lari dari kenyataan, yang namanya kabur itu tidak persiapan matang.

Terminal keberangkatan dalam negeri. Koridor ini terlalu lebar jika belum dipenuhi para wisatawan domestik maupun mancanegara.

”Hey!!”
Tiba-tiba saja ada yang membalikkan tubuhku kemudian memeluknya begitu saja. Sejenak saya reka ulang rencana kepergiaan ini. Kabur itu tanpa ijin, kabur itu tidak mengajak teman, kabur itu berarti tidak janjian atau tidak untuk menemui seseorang. Jadi saya yakin, bahwa saya sedang dizalimi. Dan hal terbaik yang harus dilakukan adalah mendorong paksa tubuh lelaki tegap ini.

”Sorry untuk hal ini, tapi tolong bantu saya sekali lagi. Bisa pinjam KTPnya?”
Apa muka kantuk ini membuat saya seperti berada dalam pengaruh obat-obatan terlarang? Sehingga saya harus diperiksa oleh polisi yang berpakaian preman demi menghindari kecurigaan para bandar dan pemadat? Tapi, jelas saya sedang berada dalam keadaan mengumpulkan setengah liter jiwa yang belum berkumpul karena rasa kantuk. Dengan mudahnya, saya mengabulkan permintaan orang ini. Rupanya beberapa bulan absen bersosialisasi dengan kehidupan nyata bisa mempengaruhi otak menjadi bodoh, karena jelas-jelas dia bukan polisi yang berhak melihat identitas penduduk dengan surat perintah!

Kini lelaki itu membeli tiket ’entah kemana kalau saya boleh tahu’ dengan menggunakan identitas saya. Analisa otak saat ini adalah sudah pasti nanti saya akan berhadapan dengan polisi karena gegabah memberikan tanda pengenal kepada seseorang yang melakukan tindakan penipuan.

”Yuk ikutin saya.”
Entah mengapa saya membiarkan tangan lelaki asing ini merangkul mesra bahuku, tempat kedua malaikat pencatat amal baik dan buruk bertengger. Menggiringku melewati petugas bandara. Lolos pemeriksaan pertama dan menuju gate ’yang bahkan saya tidak tahu yang mana’. Lelaki ini terlalu bagus untuk dikatakan teroris, jenggotnya tipis, mungkin akan terasa kasarnya apabila ada yang mengenainya. Baunya harum memakai parfum, bukan minyak nyongnyong. Dia memakai topi baseball, bukan kopeah. Tasnya pun digendong dipunggung, bukan menyeret sebuah koper. Kecepatan langkah kami pun tanpa ritme. Berarti dia tidak berhati-hati jika yang dibawanya adalah sebuah bom.

Sesekali kutengokkan kepalaku ke belakang, mencoba menerka apa yang terjadi. Atau apa jangan-jangan dia selebritis? Bisa jadi! Di rumah tidak ada televisi sehingga saya tidak tahu perkembangan gosip. Pun saya cukup alergi dalam hal membaca, alhasil tabloid, majalah, bahkan koran hanya sesekali dibaca apabila sedang diperpustakaan, melewati loker koran, di bus atau metro mini ketika mengintip baca, atau di tempat gratisan lainnya. Tapi sepertinya bukan. Karena tidak ada satupun orang yang tertarik, berteriak, menunjuk, ataupun minta foto. Atau apa karena dia menyamar? Apa dia seorang intel?

”Bisa lebih cepet gak jalannya?”
”Hah?” Oh rupanya dia orang sinting, atau penculik.

Siapapun? Siapapun? Saya yakin saya tidak melindur, tapi saat ini ada lelaki bertopi, kacamata hitam, mengenakan jaket, mengendong tas hitam, dan menyuruh saya untuk jalan lebih cepat. Siapapun? Siapapun? Apakah ada yang peduli? Karena mungkin saja saya dihipnotis dan menuruti apa yang dikatakan oleh lelaki asing ini. Bahkan kini saya mulai mempercepat langkah. Siapapun? Siapapun? Apakah ada yang bisa membawakan saya air minum? Cairan yang bisa mencairkan lidah beku? Siapapun? Siapapun? Apakah ada yang tahu dimana letak pita suara? Karena tampaknya pita ini terbelit sehingga hanya mampu mengeluarkan kata ’Hah?’.

Siapapun, tolong saya!
Saya hanya bisa merengek dalam hati berusaha supaya tidak terlihat takut. Ada yang pernah bilang, kalau lihat setan harus pura-pura berani biar setannya pergi. Tapi sepanjang menuju gate, kepala saya dalam keadaan tertunduk, sehingga saya berani bertaruh kalau dia mempunyai kaki dan keduanya menyentuh tanah.

Tuhan saya berjanji tidak akan pernah nakal lagi, saya berjanji tidak akan pernah kembali ke Colosseum dan akan lebih sering meluangkan waktu di 2nd home, saya janji akan melamar pekerjaan lagi sesuai kemauan Ibu, saya janji menyempatkan waktu bertemu calon suaminya Zie, saya janji saya akan selalu ingat perkataan guru TK tentang aturan jangan mau dikasih permen sama orang asing, apalagi kalau sampai diajak pergi!. Saya janji, Tuhan!

”Kita mau kemana? ” Akhirnya janji saya didengar Tuhan, saya diizinkan bersuara lagi.
”Nanti kamu juga tahu.”
”Oke, kita pisah di gate yang kita tuju”
”Kamu ikut saya,” gantian dia yang kali ini menengok ke belakang, mengecek.
”Percuma, toh saya juga gak pegang tiket apa-apa.”

“Yak, silahkan masuk, Pak”
Kami lolos di batas pemeriksaan koper yang kedua. Memasuki boarding room ternyata cukup kosong, entah karena terlalu pagi atau hampir saatnya take off? Laki-laki ini tampaknya sudah mempersiapkan semuanya. Kini tangan kanannya memegang tangan kiriku erat. Tanpa batas apapun, dan lapisan kulit terluar masing-masing pun bersentuhan. Hangat dan tidak berkeringat membuatku tidak menolak walau tidak diajak. Dipaksa dan malah terbiasa. Kami memasuki lorong menuju seat masing-masing.

”Selamat datang.”
Sambutan penuh senyum dengan tarikan bibir sejajar sama rata ke kiri dan ke kanan. Entah berapa lama mereka harus dilatih senyum supaya terlihat seikhlas itu.

”Maaf yah.” permintaannya.
”Maaf seperti itu masuk ke kategori permintaan atau pemberitahuan? Yang jelas, dengan menculik saya, anda tidak akan dapat apa-apa. Saya gak punya tampang anak orang kaya.”
”Hahahahhaa.”

Lepas sekali, renyah. Mungkin hatinya sudah lega. Entah apa yang dihindarinya. Dan entah apa yang membuatku sudah duduk dalam keadaan pasang seatbelt sendiri seperti ini? Bromo! Bagaimana dengan gunung suci tempat pembaptisanku? Bulan Kasodo! Pasir dalam tiupan angin itu akan menghilang begitu saja. Tidak! Lampu tanda pemasangan sabuk pengaman sudah menyala. Oh tidak! Pelarianku yang tanpa rencana ini. Aku yakin penculikan ini bukan ke Rengasdengklok karena bulan Agustus sudah lewat.

”Mau kemana kita?”
”Ssssstttt,” didekatkannya telunjuk kanan ke arah bibir tanda memintaku untuk mendengarkan apa yang dikatakan pramugari maskapai ini.

”....... pesawat akan mendarat di Bandara Hassanuddin pada pukul 11.55 WITA”
Sulawesi??? Ibuuuuuuu!!!

Kami membiarkan setengah jam pertama berjalan sunyi. Tidak perlu bertanya dan dilarang menjelaskan. Cukup menetralisir kenyataan bahwa kami berada dalam situasi aneh. Ini tidak bisa dibilang penculikan karena saya diseret dalam keadaan sadar. Lagipula tidak ada perlawanan apapun, baik itu berteriak, atau mencoba melepaskan gengamannya. Dia membiarkanku untuk duduk di pojok. Dekat jendela dan melihat kapas-kapas putih melayang di langit.

”Nih, sarapan dulu!”
Aku melihat lelaki ini menjawab pertanyaan pramugari yang menawarkanku sebuah menu untuk dipilih. Inisiatifnya mungkin timbul karena menganggap bahwa sandera memang tidak diperkenankan berbicara dengan saksi mata supaya tidak dicurigai.

”Kamu tuh siapa sih sebenarnya? Dan sedang berada dalam masalah apa?”
Dia hanya diam sempat kaget, dan menatapku aneh. Gerakan itu memang bukan hal yang sepatutnya dilakukan oleh penculik. Tapi lagi-lagi senyum seperti itu yang ditampilkan. Kini, dia membiarkan rambut pendeknya disapu udara dari pendingin ruang pesawat. Saya pun sudah bisa melihat bayangan wajahku di bola mata cokelatnya setelah ia melepas kacamata hitam yang dipakai sejak peristiwa pemelukan paksa tadi.

”Callista, saya cuma mau ajak kamu jalan-jalan. Tenang saja. Lagian kamu sendirian kan perginya? Sepertinya kamu juga belum punya tujuan mau kemana, makanya dari tadi bolak-balik di depan loket.”

Rupanya lelaki asing ini memperhatikan gerak-gerikku sejak turun dari taksi. Seenaknya saja menyebut namaku tanpa memberitahukan namanya.

Tana Toraja. Dimana masyarakatnya keturunan para leluhur yang berasal dari nirwana yang turun menggunakan tangga dari langit, yang hingga sekarang tangga itu dipercaya masih berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua, atau Tuhan Yang Maha Kuasa dalam bahasa Toraja.

Dalam kepercayaannya, Aluk Todolo, manusia hidup di bumi ini hanya untuk sementara. Selama tidak ada satupun manusia yang bisa menahan matahari untuk terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda. Seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo, tempat berkumpulnya semua roh. Hanya saja, tidak setiap arwah bisa dengan sendirinya menuju ke puyo. Diperlukan sebuah upacara penguburan sesuai status sosial orang tersebut semasa hidupnya jika tidak ingin tersesat. Wujud setengah dewa itu memerlukan korban tumbal untuknya dari keluarga dan kerabat lewat upacara persembahan.

To na indanriki’ lino. To na pake sangattu’.
Kunbai lau’ ri puyo. Pa’ Tondokkan marendeng.
Manusia hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di puyo-lah, negeri manusia yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.


Mungkin saya ternyata diculik untuk dijadikan sesembahan adat setempat. Tapi sepertinya ini hanya kekhawatiran berlebihan akibat belum sempat tidur dan merasa letih. Ada yang aneh, saya merasa menjadi seperti Callista yang lain. Yang bukan pembangkang. Apa karena saya hanya ingin menyerah pada alam semesta, terserah mau dibawa kemana. Tapi dengan lelaki asing? Apa hanya karena menyukai segala sesuatu spontan? Tapi ini spontan yang kelewatan! Bagaimana kalau lelaki tak bernama ini ternyata memang seorang penjahat? Buronan polisi? Atau salah seorang masyarakat Toraja?

Sesekali saya mengalihkan pandangan kearahnya. Dia terlalu asik dengan buku saku miliknya. Saya agak tenang setelah menyadari bahwa penumpang yang duduk di sampingnya ternyata berlaku sangat ramah padanya, seakan-akan mereka berdua sudah saling kenal.

”Kalau ngantuk tidur aja dulu. Nanti saya bangunin sesampainya di bandara. Perjalanan masih panjang.” seakan-akan malas mendengarkan lanjutannya, saya mengubah posisi badan membelakangi, supaya tubuh ini lebih nyaman. Memejamkan mata untuk pertama kalinya, semoga ini hanya mimpi.

Gendang telingaku berhasil menangkap gelombang suara pemberitahuan bahwa pesawat telah mendarat. Kemudian ada stimuli di otak yang mengatakan bahwa ternyata ini bukan mimpi. Perjalanan tak terencana ini sepertinya sebuah bencana. Callista harus tergera sadar. Perlahan kubuka mata, di luar sana matahari begitu terik. Rupanya sudah sampai, karena kapas awan sudah berganti aspal landasan. Tampaknya ada yang mengganjal kepalaku karena kening ini tidak nyeri walaupun posisi tidur ini sangat aneh. Setelah mata terbuka lebar, saya tersentak kaget karena posisi wajah lelaki asing itu menghadap tempatku duduk, dengan tangan yang bersandar dipembatas tempat duduk kami untuk menopang wajahnya yang tak berdosa ketika tertidur. Sedangkan tangan yang satunya lagi menahan keningku yang berhimpitan dengan dinding pesawat. Pantas saya merasa nyaman.

”Bangun, sudah sampai.” bisikku membangunkan.
Sisi kanan wajahnya terkena sinar mentari Indonesia Tengah sebelah utara. Setelah mengulat, dia mengajakku keluar. Dan lagi-lagi saya terpaku lalu mengikutinya.

”Kita cuma transit, sebentar lagi pesawatnya berangkat. Tapi kali ini ga terlalu jauh kok. Capek ya?”
”Kita mau kemana?”
Rupanya saya bukan akan dijadikan sesembahan. Satu masalah dan prasangka sirna. Setelah mendarat di selatan Sulawesi, ternyata kami harus bergeser sedikit ke arah tenggara hingga sampailah di suatu kota bernama Baubau untuk kemudian berlanjut ke Lasalimu dengan menggunakan mobil. Perjalanan belum usai, kami masih harus menumpang kapal cepat dengan memakan waktu selama satu jam untuk menuju Wanci yang merupakan pintu gerbang taman laut yang kami tuju, di Pulau Wangiwangi.
Wakatobi, surga lautan, jantungnya Coral Triangle. Taman Laut Nasional yang terletak 500 kilometer sebelah tenggara Kendari, atau sekitar 700 kilometer sebelah timur Makassar. Penculikan terbaik yang ditebus dengan keindahan tak tertandingi. 25 kelompok terumbu karang dan 590 jenis ikan mempercantik warna - warni permukaan dan alam bawah laut yang menyerupai taman firdaus. Sungai-sungai jernih mengalir di beberapa pulau. Perahu mengapung seolah melayang di atas air.
Perjalanan teramat jauh dan ketegangan yang kusembunyikan ini luar biasa menguras tenagaku. Bahkan aku sudah banyak bicara dengan si penculik ini. Sosoknya tidak sedingin penampilannya. Dia cukup sering memberikan pesonanya lewat senyum kepada setiap orang yang melihatnya, tak peduli apakah dibalas atau tidak. Dari percakapan-percakapan yang terucap, saya tahu bahwa dia memiliki kosa kata yang sangat baik, gaya bicara cerdas, wawasan luas, pribadi yang fleksibel tapi juga tegas. Beberapa kali aku berhasil dibuatnya tertawa, seakan-akan kami sudah akrab dan pernah bertemu sebelumnya. Tampak beberapa persamaan, salah satunya keinginan akan suatu kebebasan hidup. Bebas mengekspresikan apa yang kami inginkan tanpa dibatasi. Keinginan membobrok penjara yang telah dibuat oleh manusia disekeliling kami yang hanya menghadirkan sebuah derita untuk dikurung bersama.

Saya pun menjadi tahu alasan apa yang mendasari mengapa dia harus menculik saya. Rupanya saya hanya dijadikan kamuflase untuk menghindari seseorang yang dibayar untuk membuntutinya. Entah siapa dan karena hal apa sehingga harus dimata-matai, karena dia pun tidak tahu. Yang pasti, sebagai ganti rugi, segala biaya dalam perjalanan ini menjadi tanggungannya. Harus kurelakan upacara Kasodo dalam kemeriahan pasir cokelat gunung menjadi pesta terumbu dalam kemewahan pasir putih taman laut. Dari Bromo ke Wakatobi.

Matahari di langit manapun akan selalu sama. Jutaan mata yang tersebar di segala penjuru dunia akan tetap yakin bahwa jingga akan selalu menghias langit senja. Resort Seruni, sebuah penginapan yang kami pilih untuk singgah selama berada di pulau ini. Arsitekturnya, luar biasa! Tidak terlalu luas dan terkesan sangat private. Saya tidak yakin apakah kami bisa beristirahat di sini apalagi setelah mengetahui bahwa dia belum melakukan reservasi. Tapi kami tetap melangkah menuju lobi. Menurutnya, sebagai manusia kita harus berani mencoba, berani bertaruh supaya peruntungan selalu berpihak pada kita. Kepercayaan diri orang mulai membuatku simpatik. Aku bersimpatik pada orang asing. Aku tidak peduli bahwa dia tidak mempunyai nama. Saya dan kamu sudah cukup dalam dunia kita.

Nuansa emas dan hitam. Sekelompok atau seeorang investor pasti sudah menganalisis keuntungan yang akan didapatnya hingga seberani ini menanamkan investasi dengan mendirikan resort mewah di ujung negeri antah berantah. Yang berkunjung pasti hanyalah pelancong berduit yang menginginkan ketenangan dalam petualangan. Tidak cukup banyak terlihat tamu yang lalu lalang.

”Kok ga ada yang jaga ya? Oh iya kan jadi lupa, ini KTP kamu.” akhirnya kembali juga.
”Ngomong-ngomong aku belum tau nama kamu,” terlihat lagi sebuah senyuman indah.

“Selamat datang di Resort Seruni. Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” seseorang dengan logat penduduk setempat mengalihkan perhatian kami.

”Bisa pesan kamar, 2?” tanyanya kepada sang receptionist.
”Maaf, bapak ini, Aldy kan? Aldy Pranata? Pantesan kok dua hari ini gak siaran. Rupanya cuti liburan. Wah Pak, saya gak pernah absen loh nonton berita. Makin seru kasusnya!”
” Aldy Pranata,” sambil menyodorkan tangan ke arahku.

”Bisa Pak, mari saya antar ke kamar. Lewat sini.”

Saya hanya terbengong dan merasa bahwa detik di waktu Indonesia bagian tengah sedang terhenti. Gerak mereka sangat melamban sehingga saya bisa melihat dengan sangat jelas apa saja yang sedang mereka lakukan. Seorang receptioniost berlogat warga setempat dan seorang pembawa berita dengan kosa kata berbicara yang sangat baik. Dia membuka jaket yang sedang dikenakannya. Hanya balutan kaos berwarna putih dengan gambar band rock terkenal asal Inggris yang tersisa. Seorang Aldy yang membungkuk untuk mengangkat tasku yang terjatuh. Kemudian lengan bajunya tersingkat, dan terlihatlah sebuah lukisan dadu di kulitnya yang kuning. Bahkan kini aku bisa mengingat ceramah seorang penjudi yang mengajariku untuk selalu bertaruh dalam menyikapi hidup sewaktu akan memasuki lobi. Satu masalah dan prasangka sirna, diganti satu tanda tanya besar.

”Cal, kok bengong. Yuk?”

No comments: