Monday, March 24, 2008

butut dan setengah butut

17 maret 2008,

Keadaan saya saat ini dapat dipastikan butut. Letih dengan rutinitas yang berkutat dengan penelitian yang metodenya tak dimengerti. Belajar dan belajar. Aku mempelajari hingga dari awalnya tidak mengerti sama sekali, menjadi sedikit mengerti, dan aku yakin aku akan mengerti. Pernah suatu saat aku tertidur dengan posisi tangan di atas tuts laptop yang sudah layarnya sudah ngaco karena tak disayang pengurusnya. Kecapaian. Bukan cuma fisik, tapi juga pikiran. Terlalu banyak yang ingin kulakukan dalam satu waktu hingga ada ketakutan bahwa aku tidak bisa menjalankan satu diantaranya.

Tapi kemauan ini begitu kuat, maka setiap malam hari aku selalu membuat jadwal maupun deadline, dan setiap pagi aku mengecek apa saja yang harus ku kerjakan hari itu. Sedangkan di siang sampai sorenya akan ku ceklis satu persatu rangkaian list to do itu. Capai, tapi harus kupaksakan diri ini supaya tidak lalai.

Tadinya aku merasa kesal, sangat. Pertama, dosenku yang terlalu perfeksionis jika dibandingkan dengan dosen pembimbing temanku yang lain. Dan dia pula yang memaksaku untuk menggunakan metode itu, tapi dia tidak ingin memberi pelajaran dengan menyuapi, terlebih dulu ia suruh aku mandiri. Dengan segala kesibukannya, kepintarannya, keperfeksionisannya, dia memang aneh. Yang kedua, metode ini. Metode ini benar-benar tidak kumengerti. Sudah dua minggu ini, aku selalu terjaga sampai malam, mengejar apa yang harus kukejar supaya perkembangan dari apa yang sedang aku kerjakan menjadi signifikan. Tapi sumpah mati, susah. Bahkan si pengolah data sempat-sempatnya sms saya tengah malam berkata bahwa ia bingung mau diapakan variabel-variabel itu? Tapi, si pengolah data itu begitu sabar dan baik hati. Ia memahami bagaimana perjuanganku, yang rela bolak-balik pagi dan sore ke bengkel statistik tempat ia bertapa untuk sekadar mengambil data atau berkonsultasi. Sedangkan siangnya aku semedi di perpustakaan atau di warnet mencari data, atau malah menyebarkan kuesioner pada 125 responden dan mewawancarai beberapa diantaranya. Sedangkan malam harinya aku harus menganalis data statistik dan menginterpretasikannya dari sudut pandang disiplin ilmu yang kupelajari. Jadi, si pengolah data juga semangat membantuku, dengan senyum. Kadang aku malah iba pada diriku sendiri, melihat mata cekung dan warna hitam yang melingkar di sekitarnya. Keempat, narasumber objek penelitian yang selalu memberikan janji manis tidak muncul juga, bahkan sudah dua minggu ini dia masih ingkar, dan membuahkan janji palsu. Dan kelima, aku begitu merasa sendiri, bagian ini aku yang tahu.

Tapi ditengah-tengah kekesalan itu, atau saat merasa iri dengan teman-temanku yang menjalaninya dengan santai, aku benar-benar merasa letih. Bahkan terlalu letih untuk mengeluh dan kesal. Hingga akhirnya aku menangis. Setelah capai menangis, aku mengikhlaskan semua. Dan ternyata, ajaib, setelah ikhlas, aku mendapat kemudahan. Terima kasih Tuhan.








Setelah dua minggu ini, alhamdulillah data sudah diolah dan bab 4 sudah setengah jalan. Deadline, minggu depan aku sudah bisa menyelesaikan bab1-4. Kenapa diburu-buru? Bukankah sidang skripsi masih akhir April atau awal Mei? Karena aku sudah pasti akan bedol desa ke Jakarta awal April-Mei ini, ada kegiatan lain yang menunggu. Jadi aku hanya bisa izin ke kampus hanya 1-4 kali dalam satu bulan (hanya pada saat sidang komprehensif dan sidang skripsi). Memang nekat. Tapi tak ada kesempatan yang boleh dilewatkan. Kalaupun sayang untuk melepaskan keduanya, maka jalani keduanya dengan maksimal pula. Maka akan kubereskan skripsiku ini sebelum aku menjalani yang lain. Cepat bukan berarti asal-asalan. Punya pekerjaan lain bukan berarti tidak fokus pada pekerjaan saat ini. Pekerjaan berikut yang menanti akan kujadikan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan saat ini dengan maksimal. Tak peduli bagaimana letihnya badan dan pikiran, yang penting ingat makan kan? Bukankah segala sesuatu harus ada usahanya. Ganjaran yang dibayar oleh biaya. There is a will there is a way.. and I will always need your pray..

24 Maret 2008

Keadaan sudah tidak terlalu butut. Setelah super long wikend terlewati, kini saya harus kembali. Deadline terpenuhi. Bab IV sudah beres, tinggal minta evaluasi dan direvisi. Okey, let me do the rest..

Monday, March 17, 2008

Kisah Maria

Pernah gak merasa bahwa dunia gak berpihak sama diri lo? Baik, akan ku ceritakan sebuah kisah mengenai perasaan seseorang yang mencurahkan isi hatinya sehingga menjadikan aku sedikit memahami apa yang ia rasakan. Selamilah dan anggap jika engkau seorang Maria. dan aku bersedih atas nama Maria.

MARIA hanya manusia yang mempunyai hati sebagai tameng untuk melindungi dirinya. Dia tidak pernah meminta untuk hidup bahagia, hingga akhirnya kebahagiaan itu datang, ditawarkan dalam bentuk cinta dari orang asing yang dia kagumi. Setiap hari orang asing itu selalu ada dan membentuk suatu kisah. Maria menghargai semua keindahan yang terlukis dalam orang asing itu. Mulutnya selalu terbuka, diakhiri senyum sebagai tanda bahwa ia begitu kagum dan nyaman untuk berada di dekatnya.

Orang asing. Benar-benar asing. Bahkan tidak ada penyambung di antara mereka. Maria tidak mempunyai teman yang merupakan teman orang asing itu. Segala kelebihan yang Maria nilai dari orang asing tersebut adalah apa yang ia lihat, apa yang ia jalani, dan apa yang ia tahu dengan mata, hati, dan pikiran Maria sendiri. Bukan melalui pendapat teman Maria. Maria tidak punya teman yang merupakan teman si orang asing. Mereka benar-benar anonim dari sudut pandang manapun. Maka, goog value tentang si orang asing yang Maria lihat adalah mutlak, tanpa embel-embel pengaruh orang lain.

Satu hal, Maria belum menemukan kekurangannya. Maria terus mencari. Saat Maria mengetahui bahwa si orang asing punya kekurangan, maka kekurangan itu selalu dimaklumi dan berubah status menjadi hal yang lumrah, bukan kekurangan. Maria tahu betapa ia sangat mencintai si orang asing. Dan ia dapat merasakan betapa cinta begitu tidak bisa digambarkan seperti yang selalu dicurahkan oleh si orang asing.

Sosok orang asing itu sempurna. Baik fisik maupun nonfisik. Tapi justru hal itulah yang membuatnya sedih. Maria sadar bahwa ia tidak bisa memiliki si orang asing. Semua cerita indah ini pasti akan segera berakhir. Dan kini sudah berakhir. Mereka tidak dapat dipersatukan seperti manusia beruntung lainnya yang saling mencinta. Perpisahan adalah takdir yang tak dapat dielakkan. Maria dan orang asing bahkan tidak memiliki hak untuk memilih bahwa mereka ingin bersama selamanya.

Kini si orang asing sudah memutuskan bahwa ia akan pergi. Waktunya sudah habis dan ia harus kembali ke tempatnya. Ia harus menjawab panggilan keluarganya yang meminta pulang. Ia harus mau dijodohkan. Orang asing itu tidak punya kuasa. Orang asing tidak mampu menjadi durhaka bagi Ibu yang sangat dihormatinya. Dan Maria yang tak berdaya hanya mengelus dada. Ada titik tangis dipelupuk mata Maria.

Tidak ada yang dapat mengerti apa yang dirasakan Maria saat ini. Ia berkataku bahwa ini adalah siksaan hati yang paling kejam. Dan tak ada yang bisa mengerti betapa hancurnya ia saat ini. Tidak seorangpun yang berhak untuk memintanya bersabar. Dan tidak patut seseorang lain mengatakan bahwa ia mengerti apa yang dirasakan oleh Maria. Hanya keikhlasan untuk merelakan yang Maria jadikan pegangan. Maria berkata kepadaku bahwa ia sama sekali tidak membenci keputusan orang asing itu. Maria tahu bahwa mereka akan saling menyayangi selamanya, walaupun tidak harus memiliki.

Inilah apakah yang dikatakan Maria kepadaku kemarin :
”Cinta adalah sesuatu yang harus engkau perjuangkan. Cinta itu harus kau rebut. Jangan pernah menyerah atau takut gagal, dan teruslah mencinta. Walaupun fisik yang kau cinta tidak bisa kau miliki seutuhnya sebagai bagian yang akan menemanimu seumur hidup, kau akan tetap memiliki hatinya. Seperti hatiku yang tetap menjadi hak milik si orang asing. Dengan mata berlinang aku relakan ia. Dengan kehancuran hati, aku ingin melihatnya bahagia dengan orang yang akan menjalani hidup bersamanya. Aku akan tetap menjaga perasaanku seperti apa yang telah aku janjikan padanya. Tidak ada yang pernah tahu betapa indah cinta yang kami jalani. Walau hanya sesaat, cinta ini adalah hubungan yang memakai hati. Ketegaran ini begitu membuatku hancur, memaksaku menjadi pribadi kuat padahal tidak.”



Dan inilah pesan dari Maria untuk orang asing itu, yang ia tulis melalui selembar surat cinta terakhir:
”Orang asing, kedatanganmu tidak pernah aku duga. Dan memasuki cerita hidup pada waktu yang tepat. Setiap hari begitu indah, dan membuatku terlena hingga aku lupa betapa asingnya engkau. Kini saat-saat yang kita takuti telah tiba, dan mimpi buruk yang menghantui telah menjadi nyata. Berilah aku waktu untuk menenangkan diri, dan akan kubiarkan engkau menjalani keputusanmu. Aku tidak pergi dan membenci. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Tunggu aku, aku pasti datang, sebagai teman atau saudara yang masih mempunyai banyak cinta untukmu. Yang selalu bisa memberikan tangan tanpa kau minta. Siapapun yang akan aku pilih nanti, bukan berarti ia telah mencuri hatiku. Aku hanya butuh dia sebagai titik tolak supaya aku bisa kembali menjalani hidup dan tidak terlalu berharap tentangmu. Berbahagialah engkau dengannya yang kuiri. Ketahuilah, bahwa engkau tak akan terganti.”

Vintya yang iba, melihat selembar surat dari si orang asing itu.. Mungkin ini ditulis sebagai ikrar perpisahan mereka, dan beginilah rangkaian katanya :

Dear Maria,

Our story is awfully amazing,, we have each other from our first hello,
We’ve been happy, sad, laugh and yell each other,, 99% we solved it well.
With only 7 month period, feels like we’ve known each other for so many years.

I know Sometimes, I have many different moods, hurt your feeling, make you cry, and be as fragile as I can be… but, with all my weaknesses above,
you can make everything looks worth fighting!!,
you can make me share my feeling and thoughts with you, laugh and cry with you!!
And the most importantly
You can guide me through all the obstacles!!

Thank you…. Thank you for being such an amazing person for me, a good example, and a good motivator.

Thank you… Thank you for the hours of bus trip you took to go see me, the thousands of pages of books you hate that you read all night, so that you could finish all your work and come to see me every weekend.

Thank you Maria,
If eventually, separated will be the best solution (solution of being realistic off course), but you will always have my mind and my heart.

This is a promise I make, for loving me this much,, for teaching me this much, and for caring me this much.

What we have is a never ending Love story.


Perpisahan ini nampaknya bukan karena permasalahan di antara mereka. Perpisahan ini karena keadaan yang memaksa dua insan tak berdaya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan mereka, biarkan ini berakhir begitu saja, atau akan menjadi awal dari segala kisah..

Tuesday, March 11, 2008

Supremasi basi

Penelitian yang didasarkan oleh penulisan ilmiah, kentut!! Sebagai lambang supremasi dari apa yang telah dipelajri bertahun-tahun. Ini adalah sebuah pembuktian. Memang dunia pendidikan menuntut para pelajar untuk menjadi seorang yang bisa menghasilkan sesuatu yang bisa membanggakan dirinya. Bangga? I wish..

Beberapa hari ini, udah seminggu lebih sih, gua harus merelakan diri untuk diperbudak oleh yang namanya skripsi. Diburu sama jadwal sidang yang sudah menjelma menjadi pemburu liar. Tapi gua bukan binatang, tapi bintang, haha. Apabila bersinar terang maka si pemburu menjadi kagum, atau malah maklum karena dirinya tidak dapat memburu si bintang dengan senapan kebanggaannya yang disebut deadline.

Ah, teori!! Tetep aja gua pusing, sial.. inilah risiko yang harus diambil oleh seorang mahasiswi ngotot yang pengen lulus periode dekat, tapi juga ngelamar magang (dan ternyata dapat panggilan) dalam waktu yang semakin dekat. Apa risikonya? Tiba-tiba mata menjadi kabur karena kelelahan melihat jarum jam tangannya berputar beberapa kali cepat dari putaran yang wajar. Kalo ada waktu senggang, bikin jadwal atau list to do setiap hari supaya punya deadline sendiri yang harus dipenuhin. Mabok laut karena ikan hiu yang dikenalnya sebagai pembimbing skripsi menggoncang-goncangkan kapal, setir pun bergoyang tak bisa dikendalikan.

Maka dipilihlah jalan rajin sembahyang dan mengaji supaya layar komputer yang dijadikan berhala selama ini tidak membuat gua jadi musyrik. Menganggap perpustakaan sebagai tempat wisata sangat indah. Menjadikan buku sebagai lauk yang sangar gurih, bahkan saat makanan pokoknya lupa disantap. Membuat jadwal rutin : bangun pagi kerjain skripsi, siang bolong bimbingan sripsi, sore-sore saatnya browsing bahan skripsi, dan malam hari mimpi buruk karena skripsi ga jadi-jadi.

Banyak yang bertanya,

Orang lain : ”Skripsi lo udah nyampe bab berapa?”

Gua : ”Bab sebelas”

Orang lain : ”Gila keren banget lo!”

Gua : ”iya, disingkat jadi bablas”

Orang lain : ”Gobloookk”

Demi skripsi, demi lulus cepet, demi eksistensi, pokoknya gua harus rela diperbudak, harus rela bolak-balik naek damri reot, harus rela ngeliat muka dosen pembimbing gua sering”, harus rela ngejajanin duit beli makanan dalam bentuk print-an kertas, harus rela mengganti hobi potografi jadi potokopi (ini mah lebih, soalnya gua gak hobi potokopi, hanya menjadikan kalimat lebih indah dibaca), dan harus rela memakan janji-janji manis si objek penelitian yang katanya bersedia di wawancara tapi malah gak punya waktu. Maka janji manis itu akan kuserapahi saat ia menjelma menjadi janji palsu.

Sumpah, gua sadar gua ngotot banget. Pengen skripsi, tapi juga pengen magang. Makanya skripsi ini harus dikebut, gua ambil risikonya sebagai pembalap paling pemberani. Konsekuensinya akan terlihat nanti, tapi gua harus yakin kalo gua bisa tetap berada di jalur yang seharusnya dengan speed yang terus dipicu. Walaupun napas jadi terengah-engah karena udara semakin sedikit padahal helm yang gua pakai bentuknya gak mengecil, tapi kenapa ruang buat udara semakin sempit??

Gua jadi inget film ”Angkot Haji Imron”, dimana si tokoh utamanya merupakan seorang mahasiswi yang sedang menjalani skripsi tentang transportasi di Ibukota. Doi sampe rela jadi kenek angkot, dan memangkas rambutnya (bok??? Gua si ogah, haha, kayak gak ada judul penelitian lain yang lebih ok aja).

Siapapun kalian, marilah luangkan waktu sejenak. Ambil posisi seraya mengangkat tangan dan berucap, ”Tuhan, tolonglah Vintya. Mudahkanlah ia dalam menjalani skripsinya. Tunjukkanlah ia arah-arah yang benar. Murahkanlah pintu hati dosen pembimbing dan pengujinya, amin...” Makasi ya, mau baca kalimat doa tadi selengkapnya, dengan kata lain, Anda mempunyai kontribusi untuk ikut mendoakan saya. Sesungguhnya vintya sangat berterimakasih karenanya dan mendoakan Anda supaya lebih banyak rejeki, ketemu jodoh yang paling baik, sehat walafiat dalam kebahagiaan masa depan yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya, amiiinn.. Inilah salah satu bentuk simbiosis mutualisme dalam dunia cyber.

path

Path analysis, mungkin ada yang bertanya, setan macam apa itu? Setan itulah yang beberapa hari ini menjadi mimpi buruk bagi seorang Vintya. Path analisis berbentuk tanda panah awut-awutan sebagai koefisien jalur dalam metodologi penelitian kuantitatif. Dan, metode serabutan inilah yang akan membantu saya dalam menganalisa penelitian saya.

Sebenarnya, gua gak mau pakai metode ini, tapi dosen pembimbing gua yang sakti mandraguna terus memaksa (tapi dia bilang sih ”saya gak maksa loh, tapi saya tahu kamu bisa). Konon katanya walaupun metode ini rumit, tapi bisa saya pelajari. Bagi saya, path analysis bukan metode tapi ****. Maka dosen pembimbing menjelmalah sebagai guru spiritual karena dia rupanya dapat menjinakkan metode tersebut.

Dibilangin gua gak mau, masih dipaksa. Eh taunya, wajah dia mengeras (padahal dia bilang dia gak maksa??). Skripsi pun semakin diperumit. Huuuh! Setelah satu minggu merenung di bukit Manglayang, akhirnya Vintya memilih jalan damai dengan mengikuti anjuran dosen (bukan, itu adalah perintah!). Setelah mengatakan hal ini, wajah dosen berseri-seri. Saat itu hari sudah malam dan menunjukkan pukul setengah delapan malam. Setelah bimbingan selama satu setengah jam di sebuah gedung perkuliahan, terlibatlah saya dalam percakapan seperti ini :

Vintya : ”Yaudah deh, Pak. Saya pakai path analysis saja. Tapi bapak harus bimbing saya lebih sering, karena saya punya target kapan mau lulus.”

Dosen : ”Bisa kok, nanti saya bimbing. Tenang saja, walaupun ini rumit, bisalah pokoknya. Kamu pelajari saja skripsi punya si C, dia juga pakai metode ini.”

Vintya : ”Sudah, Pak. Tapi saya masih bingung. Ini sudah saya gambar model strukturalnya, tapi saya masih belum mengerti bagaimana menafsirkan hipotesisnya. Lalu, skripsi siapa lagi yang bisa saya pelajari?”

D : ”Baru tiga orang yang pakai skripsi ini, tapi kamu pelajari saja skripsi si C”

V : ”Selain si C?”

D : ”Pelajari saja punya si C” (sebenarnya yang make metode ini tuh si C sama siapa ? mahluk gaib)

V : ”Yaudah, berarti sudah saya pelajari, dan hasilnya seperti ini”

D : ”Saya gak mau suapin kamu, kamu sekarang jangan pulang dulu, beli buku dulu di Gramedia” (Bok, barusan doi bilang doi mau bimbing gua??)

Padahal itu udah jam setengah delapan malem, dan itu di Bandung. Dan gua harus pulang ke Jatinangor naek bus yang harus ditempuh selama satu setengah jam, itu juga kalau gak macet dan selamat dari godaan tukang jeruk, tukang tahu, dan tukang lainnya. Akhirnya sambil menyesali nasib, gua membeli buku malam itu juga, dan belajar keras keesokan harinya.

Beberapa hari kemudian, gua ke bengkel statistik untuk konsultasi sekaligus minta jasa olah data. Terus saat menanyakan mengenai hal pembayaran, ternyata si konsultan statistik itu berkata lantang, ”400 ribuu..” dan langsung saja gua lanjutkan dengan satu kata, ”...seeeet” oh My God, kok mahal bener yah? Biasanya kan cuma 250ribuan. Ternyata pas ditanya, konsultan berkata, ”karena metode ini jarang digunakan dan biasa digunakan untuk S2 atau S3”..

1, 2, 3 ........ ”Bapaaaaaaak doseeeeeeeeeen!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”



PS : Bapak, kalo bapak liat posting ini, ini cuma curahan hati saat saya sedang merasa kesulitan ya.. tanpa bermaksud menyinggung hati siapapun..

Monday, March 3, 2008

spoke person

Hidup gua tuh cukup enak sebetulnya, tanpa harus membayar seseorang untuk menjadi juru bicara pribadi, eh gua malah punya banyak temen yang pangkatnya lebih tinggi dari juru bicara presiden.. Bok?? Yah berterima kasih lah gua pada mereka, tapi terkadang malah suka pada bikin heboh..

Padahal gua bukan tukang curhat sana sini, kalo ada keinginan atau masalah, paling gua cuma cerita ke satu orang (atau malah enggak sama sekali), DAN curhatnya juga tanpa menggunakan kode umum "ini rahasia dan jadi tolong sebarkan!", misalnya dapat dilihat dalam kalimat di bawah ini :
"Eh, bok bok, gua punya cerita, tapi janji ya jangan bilang siapa-siapa. Soalnya gua cuma cerita sama lo aja, janji ya, sumpah ya?"

Nah, gua gak pernah tuh kayak gitu, tapi kenapa temen" gua pada inisiatif jadi spoke person gua ya? Apa gua salah GAUL dalam komunitas mahasiswa ilmu komunikasi yang kedoyanannya ngomong? Contoh kejadian :
1. Gua batalin janji sama temen, karena nyokap gua sakit dan sempet mau di opname.. Bok? kenapa semua orang jadi banyak yang nanya via sms? Padahal nyokap gua udah sembuh lagi, dan gak seheboh itu juga kali sakitnya. Thanks ya buat perhatian ke nyokap, special thanks to Opur buat jaringan komunikasinya yang begitu handal, gak percuma ya..
2. Dulu, waktu gua masih semester 2 atau 3, tiba" udah pada banyak yang nanya : "lagi nyusun skripsi ya, apa judulnya? kapan lulusnya? Boookk? baru juga kuliah 1 tahun, masa udah skripsi lagi? perasaan gua ambil S1 bukan D1.. Ok, thanks ya buat kebohongan publiknya, gua tau banget nih siapa yang gembar-gembor kebohongan ini, namanya Ocha jurusan Jurnalistik Fikom Unpad..

3. Sekarang banyak orang yang nanya gua udah lulus apa belum, gara-gara spoke person gua yang paling speak up (bahkan ia juga membuka dan menyebarkan merpatinya) memberitakan kabar burung, bahwa Vintya sudah lulus dan skripsinya menggunakan inilah itulah.. Eh, mamen! ngaco banget sih lo, kenapa gua jadi beban mental gini harus cepet" lulus gara" kehebohan lo itu?? Mubazir banget Habibie yang pintar itu punya keponakan macam elo, haha.. becanda mamen, lulus bareng ya?? Nama orang ini adalah Gadis Dwi Sartika Habibie.


Dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk ui.. bahkan hal gak penting pun diceritain, kerjaannya menaikan harkat dan martabat gua aja.. temenan d sama dia, pasti merasa dihargain banget.. Semua kelebihan yang lo punya bakalan digembar-gembor dah.. such a good marketer..

Ok, thanks ya semua, gak semua yang lo denger itu bener. Mungkin ada yang salah saat penyampaian, atau kesalahan ada pada anda yang jarang membersihkan lubang kuping..

Thursday, February 28, 2008

black hole dan mimpi

Dalam suatu waktu, tentunya manusia pernah mengalami fase dimana mereka sangat ketakutan dengan kehidupan, jenuh dengan rutinitas yang ada, atau merasa kehilangan apa yang telah menjadi kebiasaan. Fase dimana ia tidak memiliki kepercayaan diri setelah begitu berambisi mewujudkan tahapan-tahapan menuju cita-cita yang telah dirancang. Padang tandus setelah lahan itu digambarkan dalam sketsa hutan hujan. Mungkin tidak seironi itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi akan selalu ada harapan yang menjadi alasan mengapa manusia merasa harus bernafas. Walaupun yang dihisap hanya sekadar racun. Mungkin tidak mematikan.


Kehidupanku cukup miskin untuk memiliki kenangan. Terlalu konsvensional dan kurang mengerti bagaimana cara menikmati hidup. Namun aku juga belum terlalu mengerti bagaimana cara menikmati hidup yang sebenarnya. Batasan apa yang menjadikannya didaulat untuk berstatus nikmat. Karena itulah aku sangat hobi mengamati tingkah laku manusia yang lalu lalang. Melihat kearah jalan dan menebak apa yang di dalam pikiran manusia yang berjalan di trotoar sana. Berempati dengan kakek tua yang hidup terlantar. Kagum dengan kesuksesan seseorang. Rendah diri akibat membandingkan diri dengan seseorang yang berhasil dan begitu hebat dalam menghadapi cobaan. Dan senang sekali berkomentar tentang apa yang dipakai seseorang untuk menampilkan karakternya. Semua untuk menemukan arti kata nikmat.

Siapa lebih berarti dari apa. Apa yang dikatakan tidak menjadi lebih penting daripada siapa yang mengatakan. Maka nilai menjadi segala-galanya untuk membentuk siapa. Siapa akan menjadi berharga.

Sebetulnya apa yang sedang aku perbincangan. Berada dalam diskusi intrapersonal yang menjemukan. Uring-uringan. Merasa kurang mengerti dengan apa yang dirasakan dan menjadi sensitif karenanya. Tidak tahu apa yang menjadi fokus pikiran disaat memiliki banyak hal yang harus dipikirkan. Bukankah setiap orang pernah mengalami hal ini?

Oya, tadi malam aku bermimpi bertemu dengan nenek. Ia tetap cantik dengan bibir yang dipoles warna merah (sumpah nenek gua pake lipstik). Cantik dan bersih seperti biasanya. Ia datang padaku setelah aku bermimpi bahwa kakek pergi untuk selama-lamanya, pergi menyusul nenek. Aku menangis, dan nenek datang kepadaku. Aku menangis karena kedua orang yang aku cintai telah meninggalkanku, sekaligus bahagia karena mendapat kesempatan bertemu dan berbicang dengan nenek, walau dalam mimpi. Aku mengatakan padanya betapa aku menyayanginya dan betapa aku mencintai keluarga ini, keluarga yang telah ia bentuk melalui kasih sayangnya. Tapi nenek hanya menjawab dengan berkata seperti ini, ”Kadang manusia hanya mendengar apa yang ingin didengar, melihat apa yang ingin ia lihat. Mereka bertingkah laku sesuai dengan keinginan mereka untuk mencari pembenaran diri”.




Mukanya cape akibat diabetes sialan yang bercokol diraganya



Sumpah ya nek, cucunya ngerasa nenek gak nyambung. Tapi mengapa kata-kata itu begitu terngiang, bahkan hingga beberapa jam setelah saya bangun dari mimpi. Setelah hampir 7 bulan, akhirnya nenek datang dalam mimpi dan mengatakan hal itu. Kalimat yang akhirnya membangunkanku tidur.

Friday, February 22, 2008

1 milyar keberuntungan, Lelang!

Aku beruntung. Pernah suatu kali seorang temanku memintaku supaya bersedia mendoakan dia. Menurutnya, doaku selalu dikabulkan Tuhan. Haha, harusnya aku membuka bisnis rental doa berdasarkan kepercayaan itu. Sedangkan temanku yang satu berkata dengan pandangan sinis , “Lo termasuk orang yang beruntung ya, tapi kenapa mesti elo? Padahal lo kan gak soleh-soleh amat, haha.” Bok??
Ceritanya gini, temen-temen gua pada heboh setelah dikuaknya sebuah misteri yang sangat menguntungkan saya. Tapi sebelumnya, biakan saya menceritakan latar belakangnya terlebih dahulu, biar seru. Sudah hampir sati setengah tahun ini, Bakrie dengan produk Esianya telah mewarnai dunia komunikasi saya. Selama itu, sms yang saya kirim (ke semua provider lain, ke berbagai kota) selalu gratis. Pulsa tidak pernah berkurang apabila saya menggunakan layanan sms. Dan itu berlaku sampai satu setengah tahun, bukan cuma sehari atau seminggu bahkan sebulan. Lalu Esia yang saya punya beralih status menjadi ”Wartel SMS Gratisan” Berita ini telah diketahui banyak orang, bahkan orang lain yang tidak saya kenal. Saya begitu pemurah meminjamkan hp cdma ke semua tangan, sampai tak terdeteksi dimana keberadaannya. Tombolnya pun rusak, sampai saya harus ganti Hp cdma baru. Hmm, sebenarnya saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman yang menggunakan sms gratis itu karena menganggap ke-gratis-an ini disebabkan oleh bocornya jaringan Esia. Penggunaan itu bersifat korupsi. Korupsi menghasilkan dosa. Dan dosa tidak enak apabila dimakan sendiri. Saya harus berbagi, hahaha.






Hingga seminggu lalu, misteri ini terkuak. Ternyata gratisan itu bukanlah mas kawin keluarga Bakrie untuk meminang saya. Bukan.


Selama ini, apabila ingin mengecek pulsa, saya hanya menekan *955, kemudian terdengarlah suara si mbak” yang memberitahukan sisa saldo. Dan apabila mengecek dengan layanan *555, akan dibalas sebuah sms. Biasanya, saya hanya membaca hingga bagian sisa pulsa talktime saja. Ternyata, jika dibaca dengan seksama dan dalam tempo yang sewajarnya, di sana tertera pesan seperti ini :

Saldo Talktime : Rp. 10.486. Masa aktif s/d : 19/03/08. Saldo bonus : 999990999 SMS. Masa aktif bonud s/d :11/09/16. Isi ulang terakhir Rp. 25.000 pada tanggal 19/11/08
(*sumpah gak ada yang dirubah)

Bok??? Gua dapet gratisan 1 Milyar SMS. Bukan nominalnya tapi 1 MILYAR x SMS gratis ke semua provider. Yang kalau bisa diuangin sebesar >200 MILYAR. Tapi sayangnya gak bisa dicairkan dalam bentuk uang. Sial. Lihat lagi sebentar, bok?? Gratisannya sampe 2016!! 8 tahun lagi.. Di saat umur gua udah 28 tahun. Oh My God, diumur sebelia ini gua udah punya warisan?.. Oya, misteri ini berhasil dikuak oleh Shava, dia temen milyarder saya. Maksudnya, ternyata selain saya, Shava juga mengalami hal yang sama. Kami adalah dua manusia terpilih.

Sayangnya, gua pengen lulus cepet” hengkang dari Jatinangor. So, nomor esia bandung ini akan mubazir. Jadi gua mau lelang aja kartunya Mei nanti, haha. Dan udah ada yang berani nawar, ada yang berminat? Karena saya serius.

Friday, February 15, 2008

LOVE

Beberapa jam lalu, saya nonton film “LOVE”, bersama sejuta pasangan penuh kasih yang berada di dalam gedung bioskop daerah Gatot Subroto yang diapit oleh Hotel KC dan Unilever, sebut saja gedung itu Planet Hollywood. Di dalam gedung terdapat pula sejuta cinta. Bagaimana dengan film? Beberapa artis beken turut melakoni LOVE. Ceritanya sederhana. Tapi secara keseluruhan, saya suka. Mungkin juga didukung oleh faktor pengambilan gambar dan sound yang mengiringi. Maaf, saya bukan kritikus film dengan detail komentar yang memojokkan. Apa yang saya lihat dalam dalam LOVE? Film sarat cinta. Sebongkah cinta yang terfokus pada lawan jenis yang menarik perhatian, bukan cinta untuk keluarga, untuk teman, ataupun untuk sahabat.




Cinta. Menurut manusia yang ku cinta, cinta adalah kondisi saat seseorang rela untuk melsayakan hal yang tidak pernah mereka lsayakan sebelumnya. Perspektif ini tidak dapat disalahkan. Segala sesuatunya akan terlihat sangat mungkin untuk dilsayakan apabila kita berada dalam keadaan mencinta.


Semua yang melekat pada dia yang dicinta akan terlihat sempurna. Merugilah ia yang tidak pernah memiliki cinta. Dia tidak akan pernah melihat kesempurnaan. Miskin.


Konon, saya sangat menikmati hidup, mensyukuri, karena selalu mendapat apa yang saya inginkan. Walaupun terkadang tidak selalu persis seperti apa yang diharap. Hingga saya menemukannya. Masih sangat jelas kali pertama mata saya bertemu pandang dengan matanya. Seseorang dengan titik hitam di bawah mata kanannya. Dia, di sudut ruang. Dia tidak pernah saya lukiskan dalam bayangan. Pun saya tidak pernah menggambarkan kriteria yang harus melekat pada orang yang akan kunilai baik untuk dikagumi, sebelumnya. Kini, kanvas itu telah terisi dengan goresan warna, dialah yang muncul.


Saya tidak tahu apa ini cinta atau perasaan lain. Tapi pernah kah kalian merasa sakit dibagian hati --seperti yang beberapa kali saya rasa-- saat kalian benar dan/atau yakin bahwa dialah yang kalian sayang? Kini saya memejamkan mata, menghembuskan nafas, lalu tersenyum. Sepersekian detik sebelum membuka mata, terlintaslah dia. Diantara pejam dan membuka mata. Iya, hati ini sakit, seakan ditusuk, karena saya terlalu menyayanginya.


Setiap hari selalu bersama, walau terpisah ratusan kilometer. Mendengar suaranya adalah mukjizat. Saya sangat berterimakasih karena Tuhan menciptakan Alexander Graham Bell. Tidak ada kata jenuh mendengar nyanyiannya walau telinga telah panas, satu jam, dua jam, tiga jam lewat sudah. Hanya untuk memberitahu bahwa betapa saya merindunya. Hanya untuk bertanya kesekian kali tentang perasaannya. Apa dia menyayangiku? Pertanyaan yang tak penting dan tak perlu ditanya. Tapi begitulah perempuan. Hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar.


Pahatan membentuk keindahan dalam setiap inci tubuh yang dimiliki. Bukan hanya bagian luar, kebaikan dan keramahan dapat diterawang tanpa harus memiliki mata tembus pandang. Kini mataku terpejam lagi, kemudian menghembuskan nafas lagi, lalu tersenyum lagi. Mengingat betapa indahnya manusia ini saat ia bersandar di sebuah sofa dan memandangku dengan tatapan manja, luluh. Ada simpul di bibirnya. Sesekali saya datang untuk mencium. Berkali-kali pula kubenamkan kepala untuk bersandar padanya. Kadang bergantian, ia yang bersandar dan diakhiri dengan sebuah ciuman di bahuku. Saya merasakan sakit lagi, saya merasakan cinta dari dan untuknya.


Tidak ada yang patut dicela darinya. Lagi-lagi, mataku terpejam, menghembuskan nafas, lantas tersenyum. Wangi. Tiba-tiba ada harum tubuhnya. Bukan wangi dari kopi. Bukan pula wangi bunga. Harum ini telah melekat ditubuhnya sejak pertama saya menghirup wanginya dan dikutuk oleh para penyihir supaya tidak pernah hilang. Walau tertiup angin atau terhalang wangi dan/atau bau lain. Ia sangat wangi. Oh, aku juga hapal tubuhnya. Berapa tingginya, besar tangan dan kakinya, berat badannya, bentuk anggota wajahnya, sebesar apa harus kulingkarkan tanganku untuk dapat memeluknya. kubiarkan mataku buta, dan kubiasakan tangan ini merabanya supaya dapat menghapal detail manusia terindah. Lagi dan lagi, aku tersenyum setelah memejamkan mata dan menghembuskan nafas.


Setiap ciuman adalah bermakna. Bukan hanya ciuman pertama. Tapi ketika dia mencium mataku saat saya ingin tidur memimpikannya. Saat mencium pipi atau pelipisnya untuk memberitahu betapa lucunya dia. Sewaktu ia mencium kepalaku sekadar merasa bahwa ia menyayangiku. Kala saya mencium tangannya, tanda menghormatinya. Atau ciuman di punggung layaknya seorang kakek yang ingin meyakinkan bahwa cucunya terjaga. Dan, di detik saya mencium bibirnya. Getaran itu masih ada, dag dig dug yang terasa sangat. Padahal ini bukan kali pertama, kedua, atau ketiga. Getaran yang semakin berharap bahwa ia adalah orang yang akan ada di sepanjang hidup.


Tuhan, terimakasih telah menciptakanku dengan indera yang utuh sehingga bisa memanjakan diri dengan mendengar, melihat, mencium, meraba, dan mengecap cintanya. Saya telah berjanji bahwa tidak akan pernah berhenti mencintainya. Terimakasih telah membawa saya dikehidupannya dan dia dalam kehidupanku. Izinkan supaya saya bisa membahagiakan dia, membuatnya terjaga. Dialah saya pilih, yang selalu membuatku bangga.


Tetaplah bermain dalam hidupku dan melewati hari kasih sayang bersama di tahun-tahun berikut. Walau dikeseharian kita selalu ada dan penuh cinta. Aku, masih menjadi orang yang selalu berharap bahwa nama-mu lah yang akan tertera di layar saat telepon genggamku mengeluarkan suara. Oh sayang, engkau begitu.. sempurna..


* Ini bukan kisah tentang sepenggal cerita cinta. Tapi kisah ini adalah sepenggal cerita tentang cinta.

Monday, January 28, 2008

Rully sering memberi Vintya, Vintya sering berterimakasih

Apa coba?
Gua cuma mau sounding rasa senang gua.
Kenapa?
Karena punya iPod baru!!

Sabtu kemarin gua ketemu ui, terus dia hadiahin gua barang itu. Baik banget ya dia. Kalimat tadi bukan pertanyaan tapi pernyataan. Shuffle warna orange. Lucu dan kecil banget. Walau dia tahu gua gak terlalu butuh musik dalam hidup gua, musik bukan jalan hidup gua, tapi dia tetep mau kasih iPod-nya buat gua. Jadi sebelumnya, keinginan untuk memiliki iPod pun gak pernah terlintas, mending duitnya di-save buat hal yang bikin gua puas dengan barang atau hal lain yang lebih menyenangkan diri. Tapi setelah dikasih dia, gua seneng. Karena dia sangat berniat memberikannya, dan niat tulus itulah yang menjadikan iPod tersebut mempunya nilai lebih.


Ok gini, ui udah punya iPod. Dan dia dapet iPod ini setelah dia ikut meeting dengan salah satu pihak yang bekerja sama dengan perusahaan dimana ia bekerja. Beberapa hari sebelum kasih iPod ini ke gua, dia bilang gini, ”Hari kamis ini aku meeting 4x, dari jam 9 pagi sampai jam 6 magrib. Trus malemnya masih ada dinner segala. Pasti malem banget kan nih pulangnya? Eh tapi si investor yang meeting itu katanya mau kasih iPod. Nanti iPodnya buat kamu aja ya.” Gua bilang, ”Gak usah ui, makasi”


Sehari sebelum kasih barang itu, dia bilang lagi bahwa kemaren dia baru balik dari meeting and dinner jam 11 malem. Dan ternyata benar bahwa dia mendapat iPod yang dijanjikan dari pihak investor. Adeknya (yang ngeliat) juga mau. Yaudalah gua tolak, gua gak mau terima tuh barang dengan alasan : (1) iPod bukan barang murah, bukan barang yang dibeli tanpa berpikir lama (2) gua kan bukan budak musik, gak terlalu butuh juga, (3) adeknya mau, yah kasih lah. Tapi dia malah bilang gini, ”Denger yah, walaupun aku belum punya iPod, aku juga bakalan tetep kasih iPod ini buat kamu. Karena dari pertama aku tahu bahwa aku bakal dapet iPod ini pun, aku udah niat mau kasih ini ke kamu.”


makasi ya makasi, u are too much
Beruntungnya diriku mengenalmu, hehe. Hal itu pula yang dikatakan oleh temen-temen gua (mereka juga kenal ui) pas gua pamer, haha. Mereka sirik, dengan mengeluarkan kata-kata tidak percaya yang diakhiri dengan menyebut berbagai macam nama dari bermacam kategori. Ada yang menyebut nama tuhan dengan berkata, ”Oh My God”, ada yang menyebut nama binatang peliharaan, ”Anjing, arva”, ada yang menyebut nama mahluk halus, ”Setan, enak bener”.. yah yah yah, tapi mimik mukanya sama, gabungan dari sirik dan mikir kok ui baek banget, haha. Padahal iPod doangan aja, haha.. gua gak pernah kepikiran bakal ngebuang uang gua buat beli barang beginian.
Sebenernya, ini bukan pemberian yang pertama. Dia juga suka kasih bajunya buat gua, pakai acara ngotot harus diterima. Lah, kan gua jadi gak enak. Kalo ada baju dia yang katanya "cocok nih sama kepribadian vintya", doi kasih lah ke gua. Macam apa aja kan gua? Contohnya baju tengkorak yang dia kasih. Katanya, kepribadian vintya seperti itu (?!... cinta laura suka tengkorak. Vintya suka sama cinta laura. Vintya suka tengkorak). Haha, dia menggunakan (.. apa namanya dalam pelajaran bahasa indonesia SMA doeloe), lagian ya ui, siapa yang suka sama cinta laura??? Makasi ya, selalu ingat gua saat mendapat sesuatu. Tapi lebih baik, barangnya digunain buat kamu aja..
Yah, gua seneng punya iPod dari dia. Bakal gua jagain. Bakal gua sayang-sayang, iPod beserta yang memberikannya. Makasiiiiiiiiiiiii yaaaaaaaaaaa.. ;)

selamat jalan, Pak



Selamat jalan, Pak Harto.


Saya melihat, banyak sekali masyarakat yang mengantar kepergian anda. Mengingatkan saya pada si komo, jakarta macet gara” bapak lewat. Walaupun tidak mempunyai hubungan apapun, mereka bersedia berdiri di sepanjang jalan, melepas anda sambil melambaikan tangan, bahkan sesekali menyeka air mata. Ikhlas, walaupun anda pun tidak membalas lambaian itu. Bukan untuk sekadar menjalankan politik ’asal bapak senang’. Ironi, beberapa merasa sedih saat apa yang sedihinya sudah tiada. Tidak, ini bukan ironi, ini adalah hal biasa.


Saya tidak pernah membenci anda sama sekali. Tapi saya juga bukan pendukung bapak yang setia. Empati dan antipati terhadap anda tidak hinggap dalam diri saya. Saya mengenal anda, dari film dokumenter yang diputar setiap tahun pada tanggal 8 Juni dalam rangka peringatan ulang tahun anda. Saya melihat bapak naik sepeda gandeng, main golf, mancing ikan, metik buah di Mekar Sari. Bapak tersenyum bahagia, dengan mata sipit. Saya juga ingat betul waktu istri bapak lebih dahulu berpulang ke Rahmatullah. Seluruh stasiun tv baik nasional maupun swasta saat itu banyak yang mengalunkan lagu yang salah satu liriknya, ”betapa hatiku takkan pilu, telah gugur pahlawanku..”, humm tapi saat ini, lagu ini kenapa tidak begitu sering didendangkan untuk anda ya? Yah setidaknya pemerintah meminta kesediaan rakyat untuk memasang bendera setengah tiang hingga tanggal 2 Februari nanti.


Tapi sayang, pak. Sepupu saya yang sedang duduk di bangku kelas 6 SD hanya mengenal pak Harto sebagai tukang jahit langganan ibunya. Apa nama bapak tidak terukir dalam sejarah untuk dikenal mereka yang dijuluki tunas bangsa?


Saya tidak percaya kalau nama bapak tidak dielu-elukan dalam buku pegangan sejarah anak SD. Apa sejarah masa kini terlalu rumit atau membingungkan? Banyak sejarah yang sengaja ditiadakan dan dibuat sesuka hati dalangnya. Bapak kan Bapak Pembangunan. Bagaimanapun juga, saya pernah merasakan enaknya hidup di jaman keemasan bapak. Dimana 1 USD senilai Rp. 2000,00. Bok???? murah ya.. Banyak ko yang sudah bapak lakukan. Tapi sesuai dengan peribahasa ”karena nila seitik rusak susu sebelanga” atau ”panas setahun dihapus hujan sehari”.. orang-orang membutakan dirinya, mereka hanya bisa melihat kerusakan yang dialami negara dan imbas terhadap diri mereka karena ulah peninggalan atau warisan bapak yang berupa hutang.


Tapi saya tidak pernah benci bapak kok. Saya melihat anda sebagai kakek-kakek yang kaya, rapih, dan cukup ganteng, yang punya anak dan cucu yang tak kalah ganteng pula sehingga salah satu teman baik saya beserta ibunya sempat tergila-gila pada anak dan cucu bapak.

Selamat jalan ya, Pak. Proses kepergian bapak begitu sulit, yah moga-moga ada hikmahnya, hitung-hitung sakit dan penderitaan di dunia menghapus sedikit dosa, lagi-lagi katanya lho.. Doa-keun semoga rakyat Indonesia pada pintar-pintar dan rajin bekerja, berpikiran terbuka, punya keinginan maju, saling tolong menolong, arif bijaksana, cerdik cendikia, budiman dan taat menjalankan perintah agama. Dengan demikian, kami bisa membangun bangsa yang sudah tua, dan dengan cara apapun yang penting bisa memperbaiki keadaannya satu persatu-satu. Cukup sudah semua penderitaan, musibah, dan hal tidak menyenangkan lainnya yang tidak kami kehendaki.

Semoga bapak tenang ya, diampuni dosanya, dan diterima di sisi-Nya. Seneng ya bisa deketan sama Bu Tien lagi, kan satu kompleks kan yah di Astana GiriBangun? Indonesia, sudahlah. Kita awali lembaran baru, dengan resep-resep baru yang kita racik sendiri dengan segala rasa kepositifan. Yang sudah biarlah berlalu, kita tidak mungkin bisa hidup bahagia dengan perasaan mendendam dan terus menuntut akan suatu ketidakadilan.